Resensi Le Petite Prince

Membaca awal-awal buku ini, kupikir ini tentang seseorang yang terampas impiannya karena sikap orang dewasa. Tapi kemudian…
Hmm..
“IKI BUKU OPO SE!?”
Tetiba ada anak minta digambarin domba. Udah digambarin ga puas. Eh la kok tambah nggambar kendang domba. Terus orangnya bilang, “dombamu di dalam sana.”
“APAAN WOY?”
Oke oke, tahan dirimu nak. Ini buku pinjam. Dan kamu sudah bilang akan menulis komentar dalam 100 kata. Kuatkan dirimu. Kuatkan dirimu.
Lalu mulailah cerita tentang pangeran cilik. Oke, mungkin mulai keren. And…
“HAH?”
“APAAN?”
“TINGGAL DI ASTEROID?”
“PUNYA GUNUNG BERAPI?”
“HAH?”
Kuatkan dirimu, kuatkan dirimu.
Aku terus membacanya sampai habis. Dan, ini sudah 102 kata. Jadi, lanjut aja.
Pusing juga mikirin jalan cerita ini. Pindah ke asteroid asteroid lain, ketemu raja, orang sombong, ahli bumi, pelita, lalu ke bumi. Dan oke selesai bukunya. Saatnya menganu. Apa ini enaknya yang dianu…
Sepertinya ini buku filosofis. Beberapa hal memberikan pemaknaan yang mendalam.
Well, membaca pangeran kecil yang nggemesin ini juga membuat saya mengingat masa kecil. Seperti bagaimana bocah ini berpidato di hamparan kebun bunga mawar. Ia meninggikan mawarnya sendiri yang manja, endel, dan lemah di hadapan ribuan mawar yang lain. Ia menilai mawarnya lebih baik dan penting daripada ribuan mawar lainnya. Ia telah menghabiskan waktu-waktu berharganya untuk merawat mawarnya. Hal ini membuat mawarnya lebih berharga. Well said (iki bener ga sih nulise? haha).
Saya inget dulu punya tanaman kacang ijo. Itu tuh waktu kelas empat SD yang disuruh nandur (nanam) kacang ijo. Setelah saya kumpulkan ke sekolah, setelah dinilai sama bu Yana saya pindah ke pot yang saya buat sendiri di rumah. Lebih besar, isi lebih banyak, harga lebih mahal. Sekalian saya nyoba pupuk berdasar teori. Mulai dari sisa kangkung emak sebagai pupuk hijau, saya juga masukkan kepala ikan sebagai pupuk kompos. Setiap hari, saya cek bagaimana proses pembusukan terjadi. Hari ketiga saya buka la kok ada belatungnya. Cepet-cepet saya tutup lagi. Sambil girap-girap (saya ga nemu anuan indonesianya). Setelah agak besar, bencana happen. Ada tikus yang makan tanamanku. Hama itu nyata. Terus aku nangis. Kelas 4 SD lo. nangis. Diseneni (dimarahi) karo mak ku. Makku ini ga ngerti perasaanku. Dipikir sekedar kacang ijo. Padahal bagiku, ia kacang ijo yang penting dalam hidupku #oposeeeee. Makin berderai air mataku. Bantal kamar jadi basah kuyub (well aku jadi rindu jadi anak nangisan..). Sejak itu, aku membenci tikus selamanya. Makanya aku termasuk semangat kalau di rumah lagi berburu tikus. Jangan ditiru. Dendam itu tak baik. haha. Alhamdulillah di rumah udah ga ada tikus. Ajaibnya, tanamanku seperti memahami kesedihanku. Sisa-sisa dirinya tumbuh dan bahkan berbuah. Setelah itu tak ambil kacang ijonya. Bentuknya agak beda sih sama kacang ijo pada umumnya. Dan dia terus berbuah. Tapi ya gitu, semakin lama hasil buahnya makin kecil kecil. Ga ngerti, apa karena gizinya kurang atau, karena memang begitu sifatnya.
Masih di bagian mawarnya. Ada hal bagus juga yang tak tangkap. Mawar itu melindungi dirinya dari dunia. Bekalnya Cuma empat buah duri. Jelas ga cukuplah. Kemudian ada si bocah yang justru melindungi mawar. Pesannya sih, senjata bukanlah hal yang paling bisa melindungi diri. Banyaknya senjata justru tidak membuat aman. Di belahan dunia yang lain, orang-orang menggunakan senjata untuk membunuh. Kalau tidak membunuh orang lain, mereka membunuh diri mereka sendiri. Dunia ini tidak butuh satu senjata. Dunia ini butuh banyak cinta dan kasih sayang. Cinta yang membuatmu melindungi orang yang kamu kasihi dan sayangi. Kayak ibunya hawwy potta. Eh tapi, ntar kalau cintanya tak terbalas malah kayak Madara. Terus perang. Tidak jadi damai. Hahaha. Geje. Jadi, sebenarnya dunia ini butuh apa sih? “Iman,” kata seorang ustadz. Jika kamu hidup dengannya engkau akan tenang. Jika mati dengannya engkau akan aman.
Emm, oke. Lanjut.
Bagian yang saya suka juga ketika urusan ngambil air. Ketika ia mengomentari sebuah produk yang membuat orang lebih praktis dan menghemat waktu. Tapi yang ditanya tidak bisa memberikan gambaran jelas untuk apa waktu yang telah dihemat tadi? Ia berkata, kalau ia punya waktu beberapa menit, aku lebih suka untuk berjalan ke pancuran dan mengambil air. Ini bener banget. Suatu ketika saya belajar tentang Teknik-teknik membaca cepat. Membaca kilat. Dan membaca garis tangan. Eh, salah. Ya intinya menghabiskan waktu yang lebih singkat dalam membaca buku. Sudah dipraktikan, hasilnya emang cepet banget. Cuma kayaknya saya lebih suka baca buku pelan-pelan aja. Menikmati rangkaian katanya. Menikmati pengulangan katanya. Berhenti sejenak sambil merenung. Atau membaca sampai ketiduran. Pengen juga diskusi sama orang lain terkait buku yang udah dibaca. Dan itu jadi kenikmatan tersendiri sih. Di zaman yang semuanya serba cepat, sepertinya itu akan menjadi kenikmatan yang semakin langka.
berikutnya adalah bagian yang tidak bisa saya suka. Selain di awal seperti pesawat, asteroid, dan domba, saya juga ga terlalu suka dengan foxy, ular, dan bintang-bintang. Yang foxy itu endel banget. Temenan. Itu drama banget. Minta dijinakkan, terus jual mahal. Terus udah dijinakkan, terus ditinggal. Apaan. Selain foxynya yang kayaknya mbleset, si bocah kayaknya punya bakat PHP luar biasa. Untung Cuma sama foxy. Berikutnya yang ular berbisa. Ada yang suka ular berbisa?. Nah yang terakhir, yang dia bilang ke om-om kalau dia liat ke atas si om akan senyum-senyum sendiri. Pemaknaannya bagus sih. Cuma ini mengubah persepsiku tentang bintang. Liat bintang inget si bocah. Ga jadi seneng, malah sebel. Iya, kisahnya agak nyebelin. Untung itu udah lama, jadi aku mengkhayal ulang tentang bintang. Aku membayangkan si bocah udah gede. Berewokan dan lusuh karena di sana ga ada tukang cukur keknya. Dan ga lucu lagi. Khayalan lainnya, asteroid tempatnya tinggal bertabrakan dengan asteroid lain, terus dia …. Ya gitu. Terus aku senyum-senyum. Si bocah udah ilang. Krik krik.
Oke, itu anuan saya tentang buku kecil pangeran kecil. Kalau ada yang salah persepsi harap dimaklumi. Udah ga pengen buka lagi… Sekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s