Personal Branding Orang Tua kepada Anak

 

Saya sering menerima keluhan dari orang tua. Bahwa anak mereka lebih suka mendengarkan temannya daripada orang tua mereka sendiri. Anak tidak lagi menghormati orang tua sebagaimana mestinya. Lalu si anak merasa, bahwa orang tua tidak dapat memahami sang anak. Sehingga sang anak tidak mau mendengarkan orang tua. Sibuk dengan dirinya dan dunianya.

Jika komunikasi ini gagal terjalin, seringkali terjadi pertengkaran antara orang tua dan anak. Berikutnya tidak akur atau saling memaksakan kehendak masing-masing. Dan keadaan rumah menjadi tidak kondusif. Hal ini tentunya mengganggu kinerja anak dan orang tua. Anak tidak dapat belajar dengan baik. Orang tua tidak dapat bekerja secara maksimal.

Sebenarnya, Keluarga adalah sebuah pasar. Dimana orang tua adalah penjual. Dan anak adalah pembeli. Orang tua memiliki produk dan layanan untuk anak. Mulai program pendidikan, pemikiran, atau nilai-nilai yang harus dijunjung dalam keluarga. Layanan berupa fasilitas, kasih sayang, dan penunjang-penunjang yang lain.

Nah, agar sang anak dapat mengikuti kemauan orang tua, Orang tua perlu melakukan Personal Branding. Berusaha untuk menjadi seorang yang mempesona di hadapan anak-anak. Karena sebagian besar transaksi terjadi  karena pesona yang dimiliki penjualnya. Penting untuk membuat orang tua memiliki pesona dahsyat di mata anak-anak.

Visi Keluarga

Ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Ibarat perusahaan, orang tua wajib untuk memiliki visi di dalam keluarga. Visi ini terkait untuk menjadi apa. Misalnya visi menjadi keluarga dengan pendidikan tinggi. Atau menjadi keluarga yang dapat meningkatkan mutu Negara. Atau dapat juga menjadi keluarga yang membentuk pilar agama. Dan sebagainya.

Hal ini penting, karena diharapkan dari sana orang tua dapat membuat peta keluarga. Pendidikan apa yang harus didapat sang anak. Karakter apa yang ditanamkan. Perubahan perilaku apa yang harus dilakukan orang tua terkait visi tersebut.

Sumber Daya

Dalam keluarga, tentu ada sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Termasuk tujuan orang tua terhadap anak. Sumber daya utama yang wajib dimiliki orang tua adalah sumber daya ilmu. Ilmu terkait apa? Tentu saja semua ilmu yang berhubungan dengan anak. Anak adalah pasar orang tua. Perlu memahami pola pikir sang anak. Bagaimana cara berkomunikasi, apa yang mempengaruhi mereka, bagaimana lingkungannya, kapan saat-saat krusial sang anak, siapa yang memiliki pengaruh kuat kepada mereka, apa yang sebenarnya mereka inginkan, dan sebagainya. Tujuannya untuk membuat performa orang tua berada dalam tingkat maksimal, ketika menghadapi pelanggan kecil mereka.

Dalam hal ini, perlu juga untuk melakukan konsultasi kepada ahli. Tidak harus formal. Tapi dapat dilakukan lewat bergabung dengan komunitas orang tua baik-baik atau semacamnya. Bagaimanapun, perlu untuk memiliki jaringan untuk melakukan update informasi. Dan juga tidak boleh lupa, bahwa orang tua perlu melakukan evaluasi diri. Sikap apa yang harus diubah dari diri. Hal ini dapat dilakukan dengan saling berbagi dalam suami istri. Kekurangan maupun kelebihan masing-masing. Tujuannya menghasilkan sinergi dan kolaborasi terbaik untuk menghadapi pelanggan kecil dalam keluarga. Tujuan sampingannya adalah menjaga harmonisasi lingkungan sang anak.

Sumber Daya yang lain adalah materi tentu saja. Tapi ini tidak mutlak. Materi adalah untuk pendukung aktivitas. Misalnya memilih sekolah. Untuk usia SD, sekolah yang bagus adalah yang berbasiskan agama. Karena fase ini adalah fase dasar pembentukan aspek moral sang anak. Dan sekolah berbasis agama, biasanya relatif mahal. Tapi seperti saya katakan sebelumnya, ini tidak mutlak. Asalkan kondisi di rumah baik, dan anak dapat dikondisikan sesuai visi. Maka hasilnya dapat baik juga.

Pertunjukan Terbaik

Penting untuk memperlihatkan kelebihan orang tua. Dapat dari pendidikan. Dapat dari kasih sayang yang melimpah. Dapat dari perhatian yang tulus. Tapi yang paling penting adalah keindahan perilaku orang tua dan kemampuan mendengar. Tidak sekedar menunggu giliran berbicara. Tetapi tentang memahami maksud yang ingin disampaikan sang anak.

Sesekali, perlu juga untuk menampilkan keterbatasan orang tua. Tentunya dengan pemberian pengertian juga. Agar bagaimanapun, anak merasa bangga dengan orang tuanya.

Ada satu kisah dari sebuah keluarga. Ketika itu, berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Lalu mereka berhenti di sebuah tempat makan. Ketika itu, orang tua hanya memesan makanan. Lalu sang anak merengek meminta es krim. Karena sang anak dalam kondisi pilek, orang tua tidak mengijinkan. Sang anak berontak. Membuat kehebohan di dalam tempat makan tersebut. Tentu orang tua malu dengan perbuatan sang anak. Tetapi orang tua ini tetap sabar. Sambil memberi tahu alasan orang tua tidak membelikan es krim. Sampai pulang sang anak tetap sulit dikendalikan.

Dua pekan kemudian, keluarga tersebut kembali ke pusat perbelanjaan. Lalu makan di tempat yang sama. Ketika itu, orang tua sang anak menawarkan es krim. Sang anak heran, tapi senang dengan hadiah orang tuanya. Sang anak belajar sesuatu. Bahwa, orang tua memiliki pertimbangan yang baik bagi sang anak. Sang anak dapat mempercayai orang tua.

Berikutnya di toko mainan. Ketika itu sang anak ingin dibelikan mainan. Tapi karena hari itu, orang tua telah membeli cukup banyak kebutuhan, maka sang anak harus menahan keinginannya. Sang anak pun menerima. Lalu berkata kepada ibunya, bahwa ia ingin melihat sebentar lagi mainan tersebut sebelum pulang. Sang ibu iba, sang ayah menyarankan tidak mengubah keputusan tersebut. Karena hal itu akan mengajarkan pada sang anak bahwa orang tuanya tidak benar-benar memiliki keterbatasan. Singkat cerita, mereka pulang. Tapi Sepekan kemudian keluarga tersebut kembali ke toko mainan tersebut. Ketika itu sang anak bertanya, “bukankah ayah dan ibu belum gajian?” Dan sang ibu mengatakan, “kita dapat rezeki tidak terduga nak.” Lalu di toko mainan, anak tersebut memilih mainan dengan harga yang paling murah. Dan anak belajar keterbatasan orang tua. Belajar mengerti mereka. Lalu menerima dan tetap bangga.

Menjaga Hubungan

Hal penting berikutnya adalah menjaga hubungan dengan anak. Hal ini dapat dengan saling bertukar pikiran. Saling bercerita dan berusaha memahami. Memberikan perhatian yang layak. Tidak hanya berusaha menanamkan apa yang ada di pikiran orang tua. Tapi memahami karakter sang anak. Yang sering orang tua lupa adalah memberikan hadiah. Tidak harus berupa materi. Tapi pujian yang tulus dapat menguatkan sang anak. Contohnya mengucapkan terima kasih ketika sang anak membantu orang tua. Mengucapkan selamat ketika mendapat nilai baik. Dan menguatkan mereka jika hal buruk menimpa mereka. Memang, sebagian hal baik tadi adalah kewajiban sang anak. Tetapi, bahkan Tuhan memberikan kita hadiah besar ketika kita melakukan kewajiban. Jadi, mengapa hal itu tidak orang tua lakukan kepada anak?

Peka pada Kondisi dan Lingkungan

Saat ini lingkungan cepat berubah. Hal ini dapat berdampak pada anak. Orang tua perlu jeli melihat perubahan ini. Ada baiknya untuk meluangkan waktu mencari informasi terkait lingkungan sang anak. Hal ini dilakukan untuk membaca arah perubahan zaman. Atau sekedar bahan pembicaraan. Aktivitas ini dapat menguatkan hubungan antara orang tua dan anak. Karena ketika anak mulai dewasa, maka pergaulan meluas. Agar sang pelanggan tetap mendengarkan orang tua, maka orang tua perlu peka dan paham atas perubahan ini. Lalu melakukan yang terbaik untuk anak-anak.

Evaluasi Bersama

Ada masa untuk melakukan evaluasi bersama. Berikan anak ruang yang cukup untuk menilai atau mengkritik orang tua. Karena untuk memasarkan produk, perlu disesuaikan dengan selera pasar. Dan produk utama orang tua bagi anak adalah orang tua itu sendiri. Perubahan perlu dilakukan untuk menyesuaikan keadaan. Hal ini akan membantu orang tua, untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak-anak mereka. Diharapkan tidak terjadi kesalahpahaman dalam distribusi nilai dari orang tua kepada anak. Sehingga, keluarga anda akan menjadi keluarga terbaik. Semoga bermanfaat. (aha)

3 thoughts on “Personal Branding Orang Tua kepada Anak

  1. hehe baru komen 24 november. itu kan ada tanggalnya –v
    ternyata ini postingan udh lama ya.. tapi marits baru tau, gara2 awalnya buka yg komunikasi efektif itu sih soalnya kan muncul di home FB. tp pas liat ada “kategori” parenting kayaknya lebih seru jadi baca ini hehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s