Tentangku, Tentang Unas, dan Tentang Indonesia Raya 2

Tentu hal itu tidak merugikan siapapun. saat ini. tapi tapi anda akan menyadarinya dalam 10 atau 20 tahu ke depan. Mereka adalah orang-orang yang akan memimpin Indonesia Raya. Ketika ia nantinya akan melakukan hal yang tak sepantasnya. Percayalah, mereka begitu karena terbiasa terdidik seperti itu. Itu jangka panjang.

Untuk dampak saat ini, seringkali orang yang menerima contekan dapat nilai yang lebih baik dari yang memberi contekan. Hal itu jelas merugikan si pemberi contekan yang bisa jadi karena terpaksa. Nilai itu akan menjadi tiket masuk untuk masuk ke perguruan tinggi yang lebih baik. Berikutnya perguruan tinggi tersebut akan menerima orang yang tidak benar-benar kompeten. lalu mereka lulus. bekerja di perusahaan Indonesia atau perusahaan asing. Di dunia kerja boleh jadi mereka akan melakukan segala cara. Hal ini tidak bagus bagi untuk Indonesia raya. Mereka tidak terbiasa untuk berperilaku baik. Semakin banyak kasus korupsi, suap-menyuap dan lain-lain. lalu kita akan bersama-sama untuk menghujat perilaku mereka.

Kita akan kembali menjadi bangsa kerdil. Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab. Kasus sosial yang sering terjadi. Pacaran tanpa pernikahan. Si wanita hamil sebelum memiliki suami. sebuah perilaku yang tidak bertanggung jawab. tinggal hitung saja, berapa banyak kasusnya. lalu mari kita bertanya ke mereka, di sekolah, kamu diajari apa? -terkait ini saya jadi miris, kalau pelaku yang disebut teroris selalu kena pondok pesantrennya, tapi tidak pernah melihat bagaimana pendidikan para aparat penegak hukum yang menerima suap dan sebagainya, rada rancu jadinya-

saya ingin mengutip perkataan seseorang dari tulisan gagalnya pendidikan konvensional pidato erica goldson.

Tersebutlah kisah tentang seorang murid Zen yang masih muda, tapi sangat tekun. Suatu hari datanglah ia kepada sang guru dan bertanya, ”Kalau aku berusaha keras dan rajin, berapa lama aku akan menemukan Zen?” Sang Master berpikir sejenak lalu menjawab “Sepuluh tahun.” Si murid kembali bertanya, “Tapi kalau aku berusaha sangat, sangat keras dan berusaha belajar dengan cepat, berapa lama?” Sang Master menjawab, “Hmm, dua puluh tahun.” “Tapi kalau aku benar-benar berusaha, berapa lama?” si murid masih bertanya. “Tiga puluh tahun” jawab sang Master. “Aku tidak paham,” jawab si murid yang kecewa. “Setiap kali aku bilang akan berusaha keras, kau justru bilang perlu waktu lebih lama. Mengapa begitu?” Si Master pun menjawab, “Kalau pandanganmu tertuju pada satu tujuan, pandanganmu pun hanya akan terpusat ke satu jalan.”

Kita jadi berpikir, satu-satunya jalan meraih masa depan cerah adalah dengan pendidikan. Setengah dari hal ini benar. tapi saya teringat Einstein, Thomas Alpha Edison, atau Nabi Muhammad SAW yang tidak dapat baca tulis. mereka adalah orang-orang luar biasa. yang membuat saya tidak dapat menulis bahwa saya adalah Pria Terbaik di Dunia. Einstein tidak sekolah, begitu juga Thomas yang dianggap bodoh.

Lalu di Indonesia, ada Bob Sadino dan Andrie Wongso. Bisa sukses kok. Kita ini terlalu mengerdilkan kemampuan kita. maka dari itu, Indonesia Raya yang kita cintai ini tidak dapat dikatakan maju. Kita menjadi bangsa yang penakut. Padahal kalau kita mau, saya yakin kita bisa melakukan sesuatu.

Memang benar, pendidikan dapat membantu kita meraih sukses. Tapi saya teringat kata dosen saya. Bahwa sesungguhnya pendidikan formal bukanlah pembelajaran terkait ilmu. Di sini justru adalah pembelajaran tentang  attitude. Ilmu bisa dipelajari dimana saja. Bob Sadino, Andrie Wongso, Einstein, mereka orang yang berilmu. Tapi ada satu hal lain yang seharusnya penting untuk dipelajari. tentang diri kita sendiri, betapa kita ini istimewa.

Saya teringat sebuah buku. cuma saya lupa bukunya, kalo inget tak tulis disini (ohya, seri gurunya manusia judulnya). jadi diibaratkan pendidikan adalah hutan. maka hewan-hewan di dalamnya adalah murid-murid. ada kelinci yang cepat tapi tak pandai memanjat. ada kera yang pandai memanjat, tapi tak sekuat buaya ketika berenang. setiap orang istimewa. memiliki kemampuan yang berbeda. Pendidikan hanya menunjukkan satu jalan. yaitu kepintaran dan ilmu. Dan mereka memang tak menyediakan semua ilmu. Tapi yang pasti, kita pasti memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

Dan kecurangan yang kita lakukan, boleh jadi akan semakin menjauhkan kita dari kemampuan kita yang sebenarnya. kita menjadi lebih suka mengambil jalan pintas. dan itu dianggap pantas. Boleh jadi ada yang bilang bahwa ujian ini tidak adil. belajar selama tiga tahun tapi ditentukan oleh 6x120menit. tapi bagi saya lebih tidak adil kalau belajar yang lama itu kelulusannya ditentukan oleh uang 150rb ke joki, atau hal yang justru tidak pernah dipelajari di sekolah. sayang sekali. atau mungkin dalam sekolah ini tidak pernah dipelajari tentang percaya diri, berani maju walau salah, jujur dsb.

Tidak ada kehidupan nyaman dengan kenyamanan. tak ada kehidupan tenang dengan kecurangan. Saya pernah mendengar keluhan seorang pelajar. Ia sungguh tak rela temannya dapat nilai yang sama dengannya karena Jo**. Dia belajar tiga tahun, mengajak temannya belajar bersama untuk lulus bersama, tapi ditolak karena lebih suka melakukan hal tidak penting. seolah tak ada artinya kejujuran di negeri ini. Dan bagi saya, sebenarnya UNAS ini adalah ujian Nasional yang sebenarnya.

Bagaimana kita bersikap dalam menghadapi kesulitan dan kepepetan. Karena Sesungguhnya negeri ini lagi kesulitan. kekerasan dimana-mana, korupsi merajalela. Berharap tidak ditambah dengan ketiadaan integritas. Saya menyesal telah berbuat curang. dan saat ini saya berusaha untuk menjadi pria terbaik. yang tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Yang berusaha melakukan sesuatu untuk generasi yang lebih baik.

One thought on “Tentangku, Tentang Unas, dan Tentang Indonesia Raya 2

  1. Pingback: Tentangku, Tentang Unas, dan Tentang Indonesia Raya | Abdullah Hakim Adli

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s