Menangis tanda Cengeng?

Telah menjadi sebuah paradigma di masyarakat kita. Bahwa menangis adalah bukti cengeng, bukti tidak dewasa, dan sebagainya. Dan saya juga orang yang terpengaruh oleh hal ini. saat kecil saya adalah orang yang cengeng. dikit-dikit nangis, liat film nangis, ditinggal temen nangis, doa nangis, dsb. nangisan intinya. Dan setiap saya nangis orang di sekitar saya mengatakan bahwa saya cengeng. akhirnya saya berusaha untuk tidak menangis. dan saya sukses.

Tapi sekarang, saya jadi menyesal. kenapa saya berhenti menjadi orang yang  cengeng. kenapa saya berhenti menangis. padahal menangis adalah salah satu tanda hati yang lembut. dan ketika saya berhenti menangis, saya jadi berpikir, apakah hati ini sudah terlalu keras? dan saya khawatir, hati keras ini dapat menimbulkan penyakit yang lain. lebih-lebih penyakit tidak mau menerima kebaikan, kebenaran, dan sebagainya.

jadi, kira-kira ada yang tahu gimana cara supaya menjadi cengeng lagi. apa perlu saya membuat paradigma terbalik. “menangislah, menangislah agar hatimu lembut.”
“jangan banyak tertawa, karena tertawa mengkeraskan hati..”

Ah, sepertinya memang perlu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s