Dakwah dengan Cinta

ini postingan pertama di tahun 2013. <suwi rek>

ini terkait dengan sebuah rasa yang lama saya rasakan. sangat lama, mungkin bertahun-tahun yang lalu. Tentang rasa kecewa yang ada di dalam dada. Merasa kecewa dengan realita yang ada. Hingga membuatku berpikir, apakah begini saja, apakah begitu saja. Apa benar begitu dakwah? apa bedanya dengan jualan buku? kalau suka boleh kau beli dan kau baca. kalau tidak tinggalkan saja. atau memvonis seseorang, “kamu tidak paham!” setelah itu selesai.

Ini postingan tentang dakwah. Sebuah proses penyampaian risalah yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Sebuah amanah bagi saya, atau bagi anda, dan bagi saudara-saudara yang lain. Amanah untuk menyampaikan betapa indah Islam itu.

Pernah saya berada di suatu peristiwa. Ada seorang juru dakwah yang berdakwah. dan umat yang mendengar tentang dakwah dan Islam. Juru dakwah berkata A, sedangkan pendengar berpendapat B. Lalu juru dakwah mengatakan. “antum tidak paham akhi, ukhti.” setelah itu juru dakwah pergi. atau juru dakwah menyuruh sang pendengar pergi.

Lalu, ada seorang pencari ilmu. Sangat suka ia mencari ilmu. Ia mendengar siapapun yang berbicara tentang Islam. Asalkan dasarnya adalah Alquran dan Assunah. Ia mendengar dengan seksama. Suatu ketika ia datang ke tempat saudara yang dicintainya karena Allah SWT. Di sana mereka saling bertukar pikiran, tersenyum, dan berbagi rasa. Hingga diskusi mereka berada di suatu topic tentang dakwah. Ada perbedaan pendapat di antara mereka. Tidak terlalu besar sebenarnya. Hingga akhirnya saudara yang dicintainya mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak paham. ia tidak tsiqoh. Ia mencari tahu, apa yang sebenarnya ingin ia mengerti dari saudaranya. tapi, saudara hanya merasa kecewa dan tidak menjelaskan apa-apa. kecuali bahwa ia tidak paham.

Dan di akhir kisah, dua orang ini tidak lagi berdakwah bersama. alhamdulillah, Allah masih menjaga keduanya tetap berjuang di jalan Allah. meski dengan cara yang berbeda.

Tapi, tidak demikian dengan kisah-kisah yang lain. banyak kisah yang sama dengan akhir yang berbeda. saudara yang awalnya saling mencintai, berubah saling benci dan saling menjatuhkan. masing-masing saling mengatakan bahwa saudaranya tidak paham. tapi di antara mereka tidak ada yang menyampaikan tentang pemahaman apa. masing-masing mengunci ruang hati mereka dari prasangka yang baik-baik. Bukan memahamkan, tapi menyalahkan. Seolah tiada lagi cinta. Seolah tiada lagi ukhuwah.

Saya kecewa, ketika seorang dai tahu bahwa objek dakwah tidak paham, sang dai berlalu. Oh, tidak ingatkah ia kisah Rasulullah Muhammad SAW. Ketika ia berdakwah ke suatu negeri, tapi ia dicaci. Dilempari kotoran. Dilempari batu. Diusir dan diperlakukan tidak seharusnya. hingga Nabi berdoa:

“Ya Allah, kepada-Mulah kuadukan lemahnya kekuatanku, kurangnya upayaku, dan kehinaanku dalam pandangan manusia. Wahai Yang Maharahim dari sekalian raahimin, Engkaulah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan diriku. Kepada orang asing yang akan memandangku dengan muka masam atau kepada musuh yang Engkau berikan segala urusanku, tiada keberatan bagiku asalkan Engkau tidak marah kepadaku. Lindungan-Mu sudah cukup bagiku aku berlindung kepada-Mu dengan nur wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan, dan dengannya menjadi baik dunia dan akhirat, dari turunnya murka-Mu kepadaku atau turunnya ketidakridhaan-Mu kepadaku. Jauhkanlah murka-Mu hingga Engkau ridha. Tiada daya dan upaya melainkan dengan-Mu.”

datanglah malaikat Jibril as. lalu menyampaikan pesan dari Allah SWT bahwa Allah akan mengirimkan malaikat penjaga gunung. Malaikat penjaga gunung menawarkan untuk membinasakan negeri tersebut. Tapi Nabi Muhammad SAW dengan segala kasih sayangnya mendoakan bahwa keturunan dari penduduk negeri tersebut akan menjadi orang-orang yang berislam.

Sayang sekali, ketika kita tahu bahwa objek dakwah/saudara/teman dsb tidak paham akan pemahaman kita, lalu kita tinggalkan ia dalam ketidak pahaman ia. tanpa memberi penjelasan, dengan prasangka yang tidak semestinya, tanpa memberi ruang cinta dan ukhuwah yang tersisa. Tidakkah mereka semakin tidak paham dengan kita? tidakkah ia semakin tidak mengerti? Bisa jadi ia akan mencari sendiri. Ke sebuah tempat yang tidak pasti. Tempat yang justru membuatnya semakin jauh dari kata mengerti.

Dakwah itu penuh cinta. sabar. Tidak paham saat ini, bisa jadi nanti. Tapi mari introspeksi diri. Jangan-jangan kitalah yang membuat diri kita tidak dapat dimengerti. Lalu apakah usaha diri ini sudah maksi. Meminjam kata ustadz Salim A. Fillah. Jangan-jangan kitalah masalahnya. Jangan-jangan diri ini lah yang sebenarnya tidak paham.

 

afwan

Objek dakwah yang tidak jua paham

2 thoughts on “Dakwah dengan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s