Kenaikan BBM: Rakyat Menggonggong (berDEMO), Presiden Berlalu

Ini hanya postingan sampah. Tidak perlu ditanggapi secara serius.

Entah sudah berapa kali BBM ini naik dan turun. kalo ga salah tahun 2008 pernah naik jadi 6000 juga. pas pemilu,

“BBM Diturunkan, Diturunkan, Diturunkan…”

turun 500 rupiah per turunnya. total cuma 1500 tetepan. ga usah ngomong tiga kali. buang-buang waktu. ga tahu lagi kalo buat pemilu.

Sekarang rame lagi mau naik lagi. dengan alasan utama adalah APBN yang (mungkin) bakal jebol jika tidak naik. Karena harga minyak dunia naik parah. Sejujurnya, saya bukanlah orang yang setuju atau tidak setuju. Ingat, setiap pilihan ada resikonya. Kalau Saya tidak setuju, jelas saya harus memberikan solusi. Karena malu dong kalau saya mahasiswa tapi cuma bisa berdemo. Kalo saya setuju, ya resikonya, uang saya jelas makin tipis. Dan secara keseluruhan, akan ada kenaikan harga-harga.

Jika Aku tak Setuju (koen kate lapo?)

saya punya alasan untuk tidak setuju. Alasan saya sebenarnya simple. Saya ga tahu hitung-hitungan pemerintah. saya ga tahu harga minyak. Saya ga tahu bagaimana cara Pemerintah mengeksplorasi kekayaan Indonesia, sampai negara yang pernah tergabung dalam OPEC ini jadi negara importir. Saya masih ingat acara dialog di Metro TV. Ketika itu yang hadir Menteri ESDM, Menteri BUMN, Ichsanudin Noorsy, beberapa pengusaha, dll. Topiknya terkait BBM. Dari kubu non-Pemerintah mempertanyakan perhitungan Pemerintah. Karena menurut perhitungan mereka, seharusnya masih dapat dicari jalan lain selain menaikkan BBM.

Lalu dari kubu Pemerintah memberikan hasil hitung-hitungan. Menurut saya sih perhitungan anak kecil. sekecil saya ini. Pemerintah memberikan gambaran produksi Minyak Indonesia. berapa yang masuk negara, yang masuk pengeksplorasi, dan yang jadi produksi. Semunya hitung-hitungan awang-awangan. (menurut saya). karena kalo saya bikin skripsi mengenai itu, dosen pasti habis-habisan menghujat. Kenapa? Ya karena ga ada data yang valid. Semuanya awang-awangan. Terutama masalah biaya produksi. “sekitar 25%” kalo pak yang tadi malem ngomong di Metro TV. Kenapa saya bilang awang-awangan? karena tidak ada jumlah pasti.

Itu adalah sebuah Perkiraan saja. dan tidak ada biaya produksi berprinsip kira-kira. ada hitung-hitungannya. Cara kuno memang melakukan standardisasi harga. dan tetap ada penyesuaian setelahnya. cara Modern, sebutkan berapa harganya buat apa aja. Dengan demikian akan jelas. Sudah banyak lo yang minta transparansi dari Pemerintah. tapi yang keluar hitung-hitungan di atas lagi. kira-kira lagi. hal ini akan membuat Produksi selalu tidak efisien. Rawan terjadi yang namanya korupsi.

Ketiadaan keterbukaan membuat kita tak saling percaya. Dan ketiaadaan kepercayaan membuat roda berputar lambat. Hal ini akan membuang-buang energi dengan berprasangka atau memperlambat pergerakan negeri ini lambat terus. Seperti jika pemimpin tidak percaya rakyat, semuanya jadi dipersulit. Mau nyuruh takut ga bisa, akhirnya kepercayaan itu diberikan kepada orang asing. (ga tahu lagi kalo ada motif yang lain, cth: money or politics) Dan akhirnya rakyat tak pernah berkembang.

Ditinjau dari aspek lain: Kalo Pak Wakil menteri ESDM bilang, BBM itu barang konsumsi. Dan sebenarnya subsidi tidak terlalu perlu. Menurut saya, tidak juga. Orang yang ke kantor, naik kendaraan kan? pake BBM kan kendaraannya? kalau dekat bisa naik sepeda atau jalan. kalau jauh? Intinya, walaupun disebut barang konsumsi, BBM jelas punya peranan dalam faktor produksi. Dan efeknya bersifat multiply. Maksudnya efeknya bertumpuk.

Solusi saya, Terbukalah wahai pemimpin kami. Pasti banyak yang dapat memberikan solusi terbaik untuk negeri ini. Tinggal mau mendengar atau tidak. tapi, Wong sekarang saja, kami ditinggal. Entah kemana Presiden ini. Menurut saya sih, dengan stabilitas negara yang kacau, ada baiknya Presiden tetap berada dalam  negeri dulu. Tapi, ya terserah sih.

Jika Aku Setuju

Karena solusi ini sudah dari Pemerintah, maka saya tidak wajib memberi solusi lagi. Tapi saya hanya berpikir sebagai rakyat jelata yang tidak digaji negara.

Dengan kondisi sekarang ini, maka kami yang setuju dengan naiknya BBM berhak untuk menuntut keamanan Nasional dari Pemerintah. Sebagai penjual Pecel, saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli Bahan Baku. Bisakah Pemerintah menjaga stabilitas harga? terutama hasil pertanian. Seharusnya sih bisa. Wong, Presidennya Doktor Pertanian. seharusnya Pemerintah mampu.

Lalu, dengan semakin berjamurnya pendemo dan tindakan keras yang dilakukan polisi, maka kami minta untuk mencari penyelesaian terbaik. Mampukah pemerintah meredam gejolak sosial ini? Ingat, baru isu sudah seramai ini. Bagaimana jika benar-benar naik. Dan demo semakin berkembang. Dan boleh jadi akan ada varian demo baru. Jika sebelumnya hanya terkait pembatalan kenaikan harga BBM. Siapa tahu ada varian tambahan seperti Demo buruh untuk peningkatan UMR. demo buruh yang di PHK setelah UMR naik. Lalu demo Mahasiswa untuk menurunkan Presiden. atau Demo seluruh elemen masyarakat yang putus asa. Harga BBM yang jadi bahan pelengkap produksi naik, biaya produksi naik. membuat harga jual naik. Jika daya beli masyarakat tidak naik, maka tidak terbeli. Produsen rugi dan mengurangi produksi barang.

Lalu terjadi kelangkaan. Membuat harga semakin melambung tinggi. dan, kita tahu semua apa yang akan terjadi. tahun 1998 cukup menjadi pelajaran. Biarkan hal itu terjadi hanya pada saat itu. saya cuma kuatir, dengan demo yang baru seperti ini, Presiden udah “ngungsi”. Apalagi kalo demo meluas. bisa-bisa malah kayak “Bang Thoyib, mengapa tak pulang-pulang. Rakyatmu-rakyatmu, panggil-panggil namamu”

Dan Jika memang ingin alokasi subsidi BBM ini ingin tepat sasaran. ada baiknya bukan lewat BLT. Jika yang merasa berhak  tidak dapat, akan memicu perpecahan Sosial. yang kena masyarakat bawah. Pemerintah tinggal bilang, “kan sudah ada BLT.” Masalahe Pemerintah ga ikut mbagi. ada baiknya untuk pengembangan teknologi. Karena Teknologi akan mendorong efisiensi. Atau untuk riset terkait kebutuhan energi.

Sebagai informasi dari pembaca. Sebenarnya putra-putri bangsa tidak pernah berhenti berkarya. Tapi karena pemerintahan yang lucu mereka tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Ketika saya berdiskusi dengan anak teknik terkait BBM. Ada fakta menarik dan bikin muak. Karya putra dan putri bangsa terkait Bahan Bakar Alternatif dilarang diproduksi dan dilarang dipublikasi. Kata mereka, karena akan merugikan Perusahaan Negara. – -“

Makanya ketika Pemerintah bilang akan dibuat untuk membangun infrastruktur saya jadi negatif thinking. emang udah ada rencana? Pemerintah ga gitu deh.

Baiklah, belajar tidak peduli Pemerintah dan fokus berkarya. Semangat!

One thought on “Kenaikan BBM: Rakyat Menggonggong (berDEMO), Presiden Berlalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s