Analisa Kasus Bibit-Candra Menurut Abdullah Hakim Adli

Kasus Korupsi yang melibatkan KPK, Polri, dan Kejaksaan terus bergulir. Sudah cukup lama. Tapi semakin lama semakin rumit. Di mulai dari kisruh Kasus Bibit dan Candra. Lalu dibukanya rekaman penyadapan KPK oleh MK. Hingga akhirnya sampai pada rekomendasi Tim 8 bentukan presiden.

Namun, semakin hari masalah justru semakin pelik. Mulai dari demo rakyat yang mendukung KPK. Di sisi lain ada pihak lain yang tidak suka. Bahkan isunya demo tandingan itu adalah demo yang “dibayar” pihak tertentu untuk mendukung Polri.

Indonesia berada pada ketidak pastian. Sebagian pihak sepertinya sangat ingin masalah ini semakin berlarut-larut. Tujuannya tentu saja membuat rakyat jenuh. Dan akhirnya kehilangan perhatian terhadap pemberantasan korupsi. Dan hal ini tentu menjadi keuntungan besar pada pelaku hukum dan mafia peradilan. Mereka akan semakin bebas dalam melakukan “itu”.

Sebenarnya bagaimana ini terjadi. Bagaimana cerita ini bermula dan jalan cerita? Kira-kira ending seperti apa yang diinginkan oleh “orang-orang” di balik kasus ini?

Entah yang mana, Century dulu atau Antasari dulu?

Sepertinya ini dimulai dari kasus Century yang mengemuka. Di mana ada Buil Out dari pemerintah sebesar 6,(enam koma) sekian Triliun. Dari sini dimulai gong perang antara Koruptor dengan KPK. Dimulai dari penangkapan Antasari dengan dugaan kasus pembunuhan Nasrudin. Lalu Antasari memberikan testimoni kepada Polri. Dan sebenarnya testimoni ini adalah yang didapat Antasari dari Anggoro, Kakak dari Superstar Anggodo. Dan Anggoro ini diduga korupsi pengadaan radio untuk dinas perhutanan (kalo g salah).

Testimoni ini ditindak lanjuti, dan beranak pada kasus Bibit-Candra. Catatan : Polri menganggap ini adalah testimoni Antasari, TANPA mencantumkan SAMA SEKALI nama Anggoro sebagai sumber. Tapi hal ini sepertinya cukup untuk menahan Bibit-Candra. Dan perlu DIINGAT adalah ini dianggap sebagai bukti bahwa Bibit-Candra menerima suap.

Mari Kita bandingkan dengan sikap Polri dan Kejaksaan terkait rekaman yang melibatkan Anggodo. Dan lihat apa yang dilakukan Lembaga peradilan kesayangan kita? Mereka seperti “main-main” dan tidak serius dalam menangani kasus Anggodo ini. Penyelidikan sepertinya hanya kata-kata untuk pers. Tanpa tindak Lanjut. Bahkan di sebuah surat kabar yang bernama JAWA POS, tertulis Headline tanggal 19 November 2009, “Siang Tersangka, Sore diralat”. POLRI sepertinya menerapkan standar ganda dalam melakukan tugasnya. Dan apa yang ada di pikirkan saya?

“Siapa Anggodo? Kok enak benar dia. Bahkan tertangkap basah dalam rekaman tidak cukup untuk menahan Anggodo.” Memang seperti kata Pak Adnan Buyung Nasution. Hal itu belum bisa dijadikan bukti. Tapi seharusnya kan bisa dicari lagi? Wong Bibit-Candra aja bisa seperti itu. Kenapa Anggodo tidak?

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Kasus pun bergulir. Dan Polri menambah daftar kasus Bibit-Candra dengan penyadapan melanggar hukum. Catatan lagi : Tidak disinggung sama sekali orang yang ada dalam percakapan. Apakah mereka juga melanggar hukum atau tidak. Polri sepertinya mencoba mengarahkan opini masyarakat bahwa KPK mutlak salah. Bahkan Asosiasi Advokat yang dipimpin Egy Sujana ikut-ikut ribut dan marah kepada KPK. Dan yang harus dicatat pula : Asosiasi ini terlihat sekali kalau mereka tidak terima dengan hak mereka yang dilanggar. Tak peduli apakah mereka melanggar hak orang lain juga atau tidak. misalnya menghubungi mafia peradilan supaya klien mereka dibantu. Hmm, aneh dan rumit ya? Mungkin juga munafik. Tak apa. Memang susah menjadi barang bagus di tengah lautan sampah. Tapi itulah yang membedakan barang bagus dengan sampah sebenarnya.

Ok, kita Lanjutkan! Kemarin kita sama-sama dengar rekomendasi dari Tim 8. Menurut tim bentukan Pak Presiden ini ada baiknya Polri dan Kejaksaan menghentikan kasus ini. Dan kepada Presiden, mereka meminta Kapolri dan Ketua Kejaksaan Agung diganti.

Hasilnya?

Bapak Presiden kita menggelar rapat dengan Polri dan Kejaksaan. Lama banget. Lalu kejaksaan mengatakan kasus jalan terus.

Dan Presiden berencana membentuk Tim lagi untuk mencari fakta dari TPF.

Pertanyaanya?

BUAT APA? masak ngambil keputusan aja pake buat Tim terus. Paling-paling nanti juga dibentuk tim pencari Fakta untuk mencari fakta dari tim pencari faktanya tim pencari fakta. Mbulet ae la’an.

Dan mungkin sebagian mendengar pernyataan Presiden kita yang terhormat. Bahwa beliau tidak mau diintervensi pihak manapun. Mungkin beliau ingin mengatakan, “Sudah! anda itu tidak tahu apa-apa. Yang jadi Presiden itu saya. Kalian tidak tahu apa-apa.” Tapi ya Wallahu A’lam. Saya berpikir begitu kan karena sepertinya Presiden kita ini jaim Sekali. Yang mana sangat tidak suka kalau kepopulerannya tersaingi. Seperti saat kampanye dulu itu lo. Setelah kandidat lain “mengungkapkan” dapur pemerintahan. Presiden boro-boro mengecam. Walaupun tidak secara langsung. (pake partainya, atau mungkin pake orang-orang yang dekat).

Tapi ya, sepertinya kita yang cuma rakyat ini cuma bisa menunggu dan menunggu. Sampai pemimpin kita dapat “wangsit” untuk mengambil keputusannya.

Jadi, apa yang akan anda lakukan, Pak?

Tapi saya juga punya tafsiran Ending sendiri.

Jadi kasus ini akan sampai di pengadilan. Setelah itu Bibit-Candra dipecat. Sehingga secara tidak langsung KPK akan terintervensi dengan sendirinya. Siapapun yang akan melanjutkan kiprah KPK, mereka tidak akan tenang. karena akan selalu ada orang-orang yang tidak ingin kasus korupsinya terbongkar.
Kalaupun nantinya Bibit-Candra tidak bersalah, mereka berdua akan tetap kehilangan hak mereka. Dan hal ini juga akan otomatis menutup kasus besar yang lain. yaitu skandal Bank Century, yang merupakan kasus temuan Bibit-Candra. Dan ini berbahaya.

Tapi ya semua itu hanya kemungkinan. Jadi tidak usah terlalu percaya. Ana hanya ingin Sharing dengan teman-teman. Siapa tahu pemikiran saya ini salah. Toh ana hanya manusia biasa yang bahkan tidak sekolah.

Catatan akhir:
1. Ada keanehan juga pada kasus Antasari. Yaitu kesaksian Rani Juliani, yang digembor-gemborkan penyidik bahwa Rani adalah saksi dan bukti terkuat. Lebih aneh lagi, Rani dijaga sangat ketat. Bahkan keluarga dari Nasrudin pun tak boleh bertemu. Lalu kalau kita baca dengan seksama, banyak sekali keterangan/kesaksian Rani yang seolah-olah dibuat-buat dan pesanan dari orang-orang tertentu. Selain itu keterangannya berseberangan dengan Sopir Nasrudin. Dan yang lebih konyol lagi adalah fokus perkara bukan pada kasus pembunuhan. Tetapi perselingkuhan. Dan kita juga dengan kesaksian dari Wiliardi bahwa ini adalah kasus rekayasa. Dan setelah pengakuan ini muncul terdakwa lain yang sebelumnya enggan jadi saksi, sekarang bersemangat untuk ikut bersaksi di Pengadilan.

2. Kasus Century. Sepertinya ini berhubungan sangat erat dengan kasus di atas. Kenapa? karena kasus ini terjadi sesaat setelah ditemukannya Skandal Century ini. Di mana melibatkan orang-orang besar. Yaitu Sri Mulyani dan Boediono. Dan mungkin saja akan ada tokoh-tokoh yang lain.

Tapi ya semua itu hanya kemungkinan. Jadi tidak usah terlalu percaya. Ana hanya ingin Sharing dengan teman-teman. Siapa tahu pemikiran saya ini salah. Toh ana hanya manusia biasa yang bahkan tidak sekolah.

2 thoughts on “Analisa Kasus Bibit-Candra Menurut Abdullah Hakim Adli

    • masalahnya tindakan tegas seperti apa?
      kalo saya yang jadi presiden sih, tinggal pecat Kapolri sama Kepala kejaksaan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s